Press Release
Peningkatan Status Aktivitas Gunung Agung, Bali dari Level I (NORMAL) ke Level II (WASPADA)

Rabu, 13 September 2017 13:38:30 WIB

Image

I. Pengamatan Visual
Pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Sabtu, 1 Juli 2017 hingga Rabu, 13 September 2017 (74 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 67.9 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 19 - 31°C. Kelembaban 89%. Tekanan udara 84 mmHg. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil.

II. Pengamatan Instrumental
Terekam 24 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 7 mm dan lama gempa 4 - 30 detik. 103 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 19 mm, S-P 0.9 - 4 detik dan lama gempa 7 - 48 detik. 30 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 3 - 22 mm, S-P 4.5 - 9 detik dan lama gempa 23 - 85 detik. 97 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 25 mm, S-P 11 - 151 detik dan lama gempa 14 - 260 detik.

III. Evaluasi
1. Secara visual, dari Pos Pengamatan Gunungapi, dalam rentang waktu 3 bulan terakhir belum teramati adanya perubahan signifikan tinggi dan tebal asap dari kawah G. Agung. Menurut laporan pendaki Tanggal 13 September 2017, terlihat hembusan solfatara dari dasar kawah yang sebelumnya tidak pernah terlihat sampai periksaan terakhir pada bulan April 2017.
2. Tingkat kegempaan G. Agung secara umum tampak menunjukkan peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi yang diakibatkan oleh tekanan fluida magmatik dari kedalaman mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 10 Agustus 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara 3 mm sampai 10 mm. Gempa Vulkanik Dangkal (VB) mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 24 Agustus 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara 2 mm sampai 7 mm.
3. Aktivitas Gempa Tektonik Lokal yang mengindikasikan perubahan stress batuan di sekitar G. Agung juga terekam dan mulai meningkat secara konsisten sejak 26 Agustus 2017 dengan amplituda berkisar 3 mm sampai 22 mm.
4. Citra termal yang terekam oleh sensor MODIS di satelit Terra dan Aqua (NASA) pada periode Januari-September 2017 belum menunjukkan adanya titik api di G. Agung. Hal ini mengindikasikan bahwa belum ada material magmatik signifikan yang keluar di permukaan.
5. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental, aktivitas G. Agung teramati meningkat dengan terekamnya kegempaan-kegempaan tersebut di atas yang mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung saat ini dalam keadaan tidak stabil sehingga probabilitas untuk terjadi letusan menjadi meningkat, meskipun kejadiannya tidak dapat dipastikan.

IV. Potensi Bencana
1. Sejarah aktivitas erupsi G. Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Agung yang terletak di dalam Kawah G. Agung.
2. Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi G. Agung mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava. Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dapat tersebar di sekeliling G. Agung tergantung pada arah angin.
3. Dengan kondisi aktivitas seperti saat ini maka jika terjadi letusan, potensi bahayanya diperkirakan utamanya masih berada di area tubuh G. Agung yang berada di lereng Utara, Tenggara, dan Selatan G. Agung.
4. Ancaman bahaya secara langsung berada di daerah utara G. Agung terutama di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, Sungai Tukad Bumbung di Tenggara, Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah di Selatan G. Agung berpotensi terhadap bahaya aliran piroklastik dan lahar. Jika erupsi efusif berupa aliran lava G. Agung.

V. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka terhitung mulai tanggal 14 September 2017 pukul 14.00 WITA tingkat aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada)

VI. Rekomendasi
1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 3 km dari kawah puncak G. Agung atau pada elevasi 1500 m dari permukaan laut.
2. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
3. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Agung.
4. Masyarakat maupun BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan tingkat aktivitas maupun rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play.

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM