Press Release
Laporan singkat kronologi peningkatan kegempaan vulkanik G. Gamalama, Kota Ternate, Maluku Utara pada 1 Juli 2017

Sabtu, 01 Juli 2017 22:46:04 WIB

Image

Gunungapi Gamalama yang berada di Kota Ternate, Maluku Utara mengalami peningkatan kegempaan vulkanik pada hari ini sehingga kesiapsiagaan masyarakat perlu ditingkatkan. Berikut ini diuraikan poin-poin penting berkaitan dengan data pengamatan dan langkah-langkah kesiapsiagaan yang disiapkan.



A. Analisis data pengamatan
(1) Pengamatan kegempaan menunjukkan adanya peningkatan jumlah Gempa Hembusan dan Vulkanik Dalam sejak pkl. 00.00 WIT. Rekaman kegempaan pada tanggal 1 Juli 2017 pukul 00.00-24:00 WIT selengkapnya adalah sebagai berikut: (a) Gempa Hembusan (Jumlah : 59, Amplitudo : 1.5-10 mm, Durasi : 4.51-64.05 detik) (b) Gempa Tremor Harmonik (Jumlah : 1, Amplitudo : 2.5 mm, Durasi : 17818.7 detik) (c) Gempa Vulkanik Dalam (Jumlah : 8, Amplitudo : 2.5-8 mm, S-P : 0.72-1.41 detik, Durasi : 5.69-12.69 detik) (d) Gempa Tektonik Jauh (Jumlah : 12, Amplitudo : 2-54 mm, S-P : 10.83-21.44 detik, Durasi : 33.68-129.63 detik)

(2) Pengamatan visual sepanjang hari ini tidak teramati adanya hembusan gas, baik dari kawah utama atau pun rekahan timurlaut. Pengamatan visual dapat dilakukan dengan baik pada pukul 07.25 hingga 07.30 WIT, setelah itu pengamatan visual tidak dapat dilakukan karena gunung tertutup kabut.
(3) Histogram gempa harian dalam 60 hari terakhir menunjukkan bahwa sejak peningkatan jumlah gempa Vulkanik Dalam (VA) pada 26 Juni 2017, kegempaan fluktuatif dan tidak menunjukkan adanya peningkatan kegempaan secara gradual, khususnya untuk gempa-gempa vulkanik. Peningkatan gempa vulkanik terjadi kembali pada 1 Juli 2017.
(4) Grafik RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) yang mengindikasikan Energi aktivitas vulkanik teramatit berfluktuasi dan menunjukkan sedikit peningkatan berkaitan dengan kenaikkan kegempaan pada 26 Juni 2017. Hingga 1 Juli 2017 belum menunjukkan adanya trend peningkatan yang signifikan.
(5) Grafik Frekuensi dominan gempa selama 60 hari terakhir menunjukkan bahwa kegempaan masih didominasi oleh gempa-gempa dengan frekuensi tinggi yang berkaitan dengan proses tektonik, permukaan (hembusan) dan peretakan batuan dalam tubuh gunung api.
(6) Grafik emisi gas SO2 periode 1 - 30 Juni 2017 belum menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Nilai emisi SO2 dinilai masih berada pada kisaran batas normal/nilai relatif rendah.

B. Analisis
(1) Kegempaan Vulkanik Dalam secara fisis menyiratkan aktivitas magmatik yang mengakibatkan peretakkan batuan di dalam tubuh gunungapi. Peningkatan kegempaan Vulkanik Dalam mengindikasikan meningkatnya tekanan (overpressure) akibat pergerakan fluida magmatik ke permukaan. Dalam kondisi overpressure, letusan gunungapi dapat terjadi meskipun tidak dapat dipastikan.
(2) Emisi gas SO2 pada saat terjadi kenaikkan jumla gempa Vulkanik Dalam masih berada dalam kisaran nilai relatif rendah, diduga energi yang dikeluarkan masih relatif rendah segingga jika terjadi erupsi hanya bersifat Freatik atau Strombolian dengan eksplosivitas rendah.

C. Kesimpulan
Saat ini status aktivitas G. Gamalama adalah Level II (Waspada) dengan rekomendasi :

(1) Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
(2) Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

Berdasarkan analisis tingkat aktivitasnya, status Level II (Waspada) G. Gamalama ini masih relevan untuk dipertahankan. Perkembangan aktivitas Gamalama terus dipantau secara intensif sehingga jika terjadi peningkatan signifikan secara menerus dan diperlukan perluasan area bahaya maka statusnya dapat dievaluasi untuk dinaikkan.

D. Langkah mitigasi strategis
(1) Meskipun letusan tidak dapat dipastikan, namun kesiapsiagaan masyarakat perlu ditingkatkan terutama di musim liburan Idul Fitri dimana jumlah pengunjung/pendaki dapat meningkat. Oleh karena itu, koordinasi dengan pihak-pihak strategis terkait, seperti Pemda/BPBD dan lainnya telah dan terus dilakukan oleh Badan Geologi-PVMBG melalui Pos Pengamatan G. Gamalama yang terus berkoordinasi dengan staf ahli gunungapi di PVMBG Bandung.
(2) VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) sebagai sistem peringatan dini untuk keselamatan penerbangan telah dikirimkan dengan kode warna YELLOW yang bermakna bahwa G. Gamalama mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sehingga peluang terjadinya letusan menjadi meningkat, namun demikian hingga saat ini belum teramati manifestasi permukaan berupa letusan abu vulkanik.

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM