Press Release
Peningkatan aktivitas Tremor Vulkanik Menerus di Gunungapi Rinjani, Pulau Lombok, NTB

Kamis, 27 April 2017 18:30:00 WIB

Image

Aktivitas Gunungapi Rinjani (tinggi puncak 3726 m di atas permukaan laut) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat mengalami peningkatan. Stasiun seismik G. Rinjani merekam adanya peningkatan aktivitas seismik yang dicirikan dengan kemunculan Tremor Vulkanik Menerus. Pengamat G. Rinjani melaporkan bahwa peningkatan aktivitas Tremor ini terjadi sejak pukul 18:30 WITA dan terus berlangsung. Sinyal Tremor yang terekam memiliki amplitudo berkisar 5-24 mm, dimana biasanya amplitudo tremor yang terekam hanya berkisar 0.5-1.0 mm. Sinyal Tremor Vulkanik Menerus yang terekam ini memiliki bentuk yang identik dengan sinyal yang terekam pada masa letusan G. Rinjani 2015-2016 yang disertai oleh aliran/guguran lava ke sisi timurlaut G. Barujari hingga ke Danau Segara Anak. Namun demikian, hingga saat berita ini dikeluarkan, visual kolom letusan abu belum teramati dari Pos Pengamatan G. Rinjani yang berada di Desa Sembalun (sekitar 9 Km di Timurlaut Puncak G. Rinjani).
Sebagai upaya mitigasi bencana, pengamat G. Rinjani terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait terutama Pemda/BPBD dan pihak Taman Nasional Gunungapi Rinjani mengenai status tingkat aktivitas dan rekomendasi G. Rinjani. Sejak 27 September 2016 lalu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM telah menetapkan bahwa tingkat aktivitas G. Rinjani berada pada Level II (Waspada) dengan rekomendasi sebagai berikut:
(1) Masyarakat di sekitar G. Rinjani dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas/berkemah di dalam area tubuh G. Barujari termasuk di area lava baru dan seluruh area di dalam radius 1,5 km dari kawah G. Barujari.
(2) Pendakian diperbolehkan kecuali di seluruh bagian tubuh G. Barujari (lihat poin 1), karena material lava letusan masih bertemperatur tinggi dan tidak stabil sehingga rawan untuk terjadi rockfall/longsoran batu.
(3) Meskipun tidak dapat dipastikan, namun potensi letusan G. Rinjani masih ada. Oleh karena itu pendaki/pengunjung/wisatawan yang beraktivitas di luar radius 1,5 km dari G. Barujari maupun masyarakat di sekitar G. Rinjani diharapkan untuk selalu menyiapkan masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata agar terhindar dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan iritasi mata jika terjadi letusan abu.
(4) Masyarakat di sekitar G. Rinjani diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Rinjani yang tidak jelas sumbernya.

Upaya peringatan dini untuk keselamatan penerbangan telah dilakukan dengan mengirimkan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan kode warna YELLOW (Kuning) ke instansi-instansi terkait keselamatan penerbangan. Kode warna YELLOW (Kuning) bermakna bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas G. Rinjani, namun demikan belum teramati adanya manifestasi permukaan berupa abu vulkanik.

Terkait peningkatan aktivitas Tremor Vulkanik Menerus G. Rinjani ini maka kegiatan pemantauan G. Rinjani dilakukan secara lebih intensif sehingga dinamika tingkat aktivitasnya dapat terus dimonitor dan dievaluasi. Waktu dan besarnya letusan tidak dapat ditentukan namun masyarakat di sekitar G. Rinjani maupun pengunjung dan pendaki diharapkan untuk tetap waspada dan mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Laporan Kebencanaan Geologi 4 September 2017 (06:00 WIB)

Letusan Freatik Merapi

Letusan Gunung Agung 25 November 2017 pukul 17:30 WITA

Letusan Gunungapi Sinabung 6 April 2018 Pukul 16:07 WIB

Aktivitas Gunungapi Ijen, Jawa Timur Terkait Kejadian Gas Beracun Di Kampung Watucapil, Sempol

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM