Press Release
Peningkatan Status Aktivitas G. Merapi Dari “WASPADA ke SIAGA”

Kamis, 05 November 2020 21:38:24 WIB

Image
Latar Belakang

Pasca erupsi besar 2010, G. Merapi mengalami erupsi magmatis kembali pada 11 Agustus 2018 yang berlangsung sampai bulan September 2019. Seiring dengan berhentinya ekstrusi magma, G. Merapi kembali memasuki fase intrusi magma baru yang ditandai dengan peningkatan gempa Vulkanik Dalam (VA) dan rangkaian letusan eksplosif sampai dengan 21 Juni 2020. Aktivitas vulkanik terus meningkat hingga saat ini.

Kronologi Data Hasil Pemantauan Aktivitas Vulkanik

1. Setelah letusan eksplosif 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu VA, Vulkanik Dangkal (VB) dan Fase Banyak (MP) mulai meningkat. Sebagai perbandingan, pada bulan Mei 2020  gempa VA dan VB tidak terjadi dan gempa MP terjadi 174 kali. Pada bulan Juli 2020 terjadi gempa VA 6 kali, VB 33 kali dan MP 339 kali.
2. Terjadi pemendekan jarak baseline EDM (Electronic Distance Measurement) sektor Barat Laut Babadan-RB1 (selanjutnya disingkat EDM Babadan) sebesar 4 cm sesaat setelah terjadi letusan eksplosif 21 Juni 2020. Setelah itu pemendekan jarak terus berlangsung dengan laju sekitar 3 mm/hari sampai September 2020.
3. Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, Guguran (RF) 57 kali/hari, Hembusan (DG) 64 kali/hari. Laju pemendekan EDM Babadan mencapai 11 cm/hari. Energi kumulatif gempa (VT dan MP) dalam setahun sebesar 58 GJ (Lampiran 1a-b).
4. Kondisi data pemantauan di atas sudah melampaui kondisi menjelang munculnya kubah lava 26 April 2006, tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi sebelum erupsi 2010.
5. Berdasarkan pengamatan morfologi kawah G. Merapi dengan  metoda Foto Udara (Drone) pada  tanggal 3 November 2020 belum terlihat adanya kubah lava baru (Lampiran 1c).
6. Sampai saat ini kegempaan dan deformasi  masih  terus meningkat. Berdasarkan hal tersebut dimungkinkan terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif.
7. Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awanpanas sejauh maksimal 5 km (lampiran 1d).

Kesimpulan

Berdasarkan evaluasi data pemantauan tersebut di atas disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk. Sehubungan dengan hal tersebut maka status aktivitas G. Merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) berlaku mulai tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB.

Rekomendasi

Dengan ditetapkannya status Siaga (Level III) disampaikan rekomendasi sebagai berikut:

1.    Prakiraan daerah bahaya meliputi:

No
Provinsi
Kabupaten
Kecamatan
Desa
Dusun
1
DIY
Sleman
Cangkringan
Glagaharjo, Kepuharjo, Umbulharjo
Kalitengah Lor, Kaliadem, Palemsari
2
Jawa Tengah
Magelang
Dukun
Ngargomulyo
Krinjing
Paten
Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar
Trayem, Pugeran, Trono
Babadan 1, Babadan 2
3
Jawa Tengah
BoyolaliSelo
Tlogolele
Klakah
Jrakah
Stabelan, Takeran, Belang
Sumber, Bakalan, Bangunsari,  Klakah Nduwur
Jarak, Sepi
4
Jawa Tengah
Klaten
Kemalang
Tegal Mulyo
Sidorejo
Balerante
Pajekan, Canguk, Sumur
Petung, Kembangan, Deles
Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang

2.    Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
3.    Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III G. Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak G. Merapi.
4.    Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan G. Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

Sumber data:
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Badan Geologi
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM