Press Release
Penurunan tingkat aktivitas G. Sinabung dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga), 20 Mei 2019

Senin, 20 Mei 2019 11:09:20 WIB

Image

Secara geografis, puncak G. Sinabung terletak pada koordinat 3°10' LU dan 98°23,5' BT, dengan ketinggian puncak 2460 m dpl. Secara administratif G. Sinabung masuk ke dalam wilayah Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan diamati secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berada di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Pada tanggal 3 November 2013, tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Peningkatan aktivitas vulkanik terus berlanjut sehingga pada tanggal 24 November 2013 tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas). Pada tanggal 8 April 2014 tingkat aktivitas G. Sinabung kembali diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga). Aktivitas G. Sinabung meningkat kembali secara visual dan instrumental, sehingga terhitung tanggal 2 Juni 2015 Pukul 23:00 WIB dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).

Data Pemantauan:

1) Visual, Pasca erupsi terakhir pada periode Juni 2018, Secara visual aktivitas letusan sudah tidak teramati selama 10 bulan, aktivitas vulkanik hanya berupa hembusan asap kawah berwarna putih tipis – tebal, bertekanan lemah, dengan ketinggian maksimum 500 m di atas puncak. Warna dan intensitas asap hembusan menunjukkan bahwa kandungan gas didominasi oleh uap air, tidak terdeteksi adanya material batuan yang terbawa ke permukaan.
Pada tanggal 7,11 dan 12 Mei 2019 terjadi masing-masing 2 kali erupsi abu yang relatif tidak besar dan singkat serta 1 kali erupsi lava lokal di lubang kecil kawah puncak bertekanan lemah. Erupsi diduga terjadi akibat sumber magma dangkal volume kecil. Erupsi ini relatif kecil bila dibandingkan erupsi magmatik pada periode Februari hingga Juni 2018.
Pasca erupsi tanggal 12 Mei 2019 aktivitas vulkanik secara visual berupa hembusan asap kawah berwarna putih tipis, bertekanan lemah, dengan ketinggian maksimum 300 m di atas puncak.
2) Kegempaan, Data kegempaan hingga 20 Mei 2019 pukul 06.00 WIB cenderung menurun walaupun ada fluktuasi, yang berasosiasi dengan sumber fluida/magma volume kecil.
3) Deformasi, Data deformasi (tilt dan EDM) berfluktuasi pada pola stabil, mengindikasikan bahwa saat ini aktivitas yang terjadi adalah dominan pelepasan fluida (dominan gas bertekanan lemah) dan tidak terdeteksi menerusnya suplai tekanan atau magma dari bawah ke permukaan.
4) Kimia gas, Data Geokimia berupa pengukuran fluks gas SO2 selama bulan Mei 2019 menunjukkan penurunan pasca erupsi tanggal 12 Mei 2019, hingga nilai 500 ton/hari.

Analisis:

1. Secara umum jenis dan jumlah gempa mengalami penurunan sejak Juli 2018, seiring penurunan energi amplitudo gempa. Pada periode Januari – Mei 2019 terekam jenis gempa yang berasosiasi dengan proses hidrothermal (dominan gas/uap air).
2. Erupsi tanggal 7, 11 dan 12 Mei 2019 merupakan ‘sudden magmatic pulse’, dicirikan oleh intensitas letusan yang relatif kecil dan tidak didahului oleh peningkatan gempa-gempa Vulkanik. Hal ini bersesuaian dengan grafik energi amplitudo gempa (RSAM), dimana tidak terjadi peningkatan energi secara gradual.
3. Perbandingan energi gempa sejak periode erupsi 2013 hingga 2019 menunjukkan bahwa energi kegempaan jauh lebih kecil pada 2019.
4. Suplai magma masih terjadi dengan intensitas rendah, ditandai dengan masih terekamnya gempa – gempa vulkanik (Vulkanik A, Vulkanik B, dan low frequency) dalam jumlah semakin menurun dibandingkan periode erupsi Februari – Juni 2018.

Potensi bahaya:

Potensi erupsi eksplosif masih ada, bersamaan dengan kejadian awan panas. Jika terjadi letusan, maka potensi bahaya primer Awanpanas letusan mengancam radius 3 km untuk sektor Utara-Barat-Selatan, dalam radius 5 km untuk sektor Selatan-Timur, dan dalam radius 4 km untuk sektor Utara-Timur dari puncak G. Sinabung. Potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan dapat terjadi saat hujan deras tanpa harus diawali erupsi. Area landaan aliran lahar hujan akan mengikuti lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunung Sinabung.

Kesimpulan:

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental hingga 20 Mei 2019 pukul 06.00 WIB, tingkat aktivitas vulkanik G. Sinabung diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga), terhitung sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB.

Rekomendasi:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

Sumber Data:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi
Kementerian Energidan Sumber Daya Mineral

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM