Press Release
Press Release Perkembangan aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau hingga 17 Maret 2019

Minggu, 17 Maret 2019 20:26:36 WIB

Image
Gunungapi Anak Krakatau merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Selat Sunda, muncul di antara P. Panjang, P. Sertung dan P. Rakata (Komplek Vulkanik G. Krakatau). Sejak pemunculannya tanggal 11 Juni 1927 hingga 2011, G. Anak Krakatau telah mengalami letusan lebih dari 100 kali dengan waktu istirahat berkisar antara 1 – 6 tahun. Saat ini G. Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi
156.9 meter dari muka laut (pengukuran Maret 2019). Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian dan letusan abu) dan erupsi efusif berupa aliran lava.

Selama rentang waktu 2012-2013 telah terjadi beberapa kali kejadian erupsi, dengan erupsi terbesar terjadi pada tanggal 2 Nopember 2012, menghasilkan kolom asap kelabu mencapai tinggi 1000 meter, diikuti dengan letusan strombolian dan diakhiri dengan leleran lava yang mengalir ke arah tenggara dan baratdaya. Letusan tahun 2013 terjadi pada akhir bulan Maret dan pertengahan bulan April. Sejak tahun 2016 hingga 2018, terjadi erupsi pada 20 Juni 2016, 19 Maret 2017 dan Juni 2018, berupa letusan strombolian. Dalam kurun waktu Juni 2018 hingga 9 Januari 2019 telah terjadi erupsi intensif berupa letusan strombolian, dengan diselingi letusan Surtseyan pada 27 Desember 2018.

Sejak tanggal 27 Desember 2018, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Data Pemantauan:
(1)    Secara visual, Gunung Anak Krakatau pasca periode erupsi intensif sejak Juni 2018 - 9 Januari 2019, hanya memperlihatkan 6 (enam) kali letusan abu kecil berwarna putih kelabu (tinggi kolom abu mencapai 500 m) pada 18, 23 Februari dan 14 Maret 2019. Pada 16 Maret 2019 terjadi erupsi dengan tinggi kolom letusan 1000 m. Warna putih tebal pada kolom erupsi menunjukkan bahwa material yang dikeluarkan dominan gas dan/atau uap air, tidak ada material batuan yang terbawa ke permukaan.
(2)    Secara seismik, aktivitas Gunung Anak Krakatau sesekali ditandai oleh terekamnya gempa Frekuensi Rendah dan Tremor. Gempa Vulkanik Dalam dan Vulkanik Dangkal masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan, Selain itu, terekam pula gempa Hembusan. Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan aktivitas vulkanik bersumber dari kedalaman dangkal (belum ada indikasi suplai magma dari kedalaman dangkal).
(3)    Secara deformasi, Pengamatan deformasi dengan tiltmeter menunjukkan pola mendatar, tidak ada gejala penggembungan (inflasi) tubuh gunung api.

Analisis:
(1)    Dengan kondisi seperti saat ini, potensi yang paling memungkinkan adalah letusan tipe strombolian/letusan abu. Letusan jenis ini bisa menghasilkan abu dan/atau lontaran material pijar.
(2)    Hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 17 Maret 2019, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau masih berfluktuasi. Potensi erupsi masih ada namun dengan intensitas yang menurun dibandingkan periode erupsi Desember 2018. Sejak erupsi terakhir pada Februari dan 16 Maret 2019, sebaran material hasil erupsi yang membahayakan hanya tersebar pada radius 2 Km dari kawah aktif G. Anak Krakatau.

Potensi bahaya:
Ancaman bahaya yang paling mungkin terjadi saat ini berupa lontaran material vulkanik berukuran abu hingga bom, namun sebaranya masih berada di sekitar kawah/puncak. Hujan abu dapat terjadi pada daerah di luar kawah, di mana penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

Kesimpulan:
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental hingga 17 Maret 2019, dinilai tingkat aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau masih pada Level III (SIAGA).

Rekomendasi:
Rekomendasi pada tingkat aktivitas Level III (SIAGA) ini adalah agar masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah aktif G. Anak Krakatau, yaitu di dalam kompleks G. Anak Krakatau yang dibatasi oleh Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang.

Sumber Data:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM