Press Release
Penurunan Status Gunung Agung dari Level IV (AWAS) ke Level III (SIAGA)

Senin, 12 Februari 2018 12:48:18 WIB

Image

Berikut ini kami sampaikan hasil evaluasi aktivitas vulkanik Gunung Agung pada tanggal 10 Februari 2018 yang telah dirangkum sebagai berikut.

A. Analisis Data Pemantauan Multi-parameter.

  1. Frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan, erupsi terakhir kali terjadi pada 24 Januari 2018 (17 hari yang lalu) dengan ketinggian kolom abu sekitar 1000. Dalam satu bulan terakhir, ketinggian maksimum kolom erupsi adalah sekitar 2500 meter di atas puncak yaitu pada 19 Januari 2018 (22 hari yang lalu).
  2. Volume kubah lava di permukaan kawah tidak mengalami perubahan yang berarti yaitu masih sekitar 20 juta meter kubik.
  3. Jumlah kegempaan secara umum mengalami penurunan. Kegempaan vulkanik sesekali mengalami peningkatan namun jumlahnya belum signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan magma masih terjadi di dalam tubuh gunungapi namun dengan intensitas rendah.
  4. Pengukuran GPS menunjukkan pola yang relatif stabil, sementara itu pengukuran tiltmeter menunjukkan pola inflasi (penggembungan) dengan laju yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa akumulasi tekanan kemungkinan masih terjadi namun intensitasnya belum signifikan.
  5. Pengukuran gas pada kolom asap mengindikasikan bahwa aktivitas magmatik masih berlangsung namun dengan konsentrasi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan periode erupsi di akhir bulan November 2017.
  6. Citra satelit termal menunjukkan adanya penurunan temperatur di permukaan kubah lava. Hal ini dapat mengindikasikan berkurangnya laju aliran lava ke permukaan kawah. Hal ini dapat mengindikasikan adanya penyumbatan pada bagian atas pipa magma atau dapat pula mengindikasikan bahwa pergerakan magma menuju permukaan mengalami penurunan.
B. Potensi Bahaya
  1. Dalam kondisi saat ini, potensi ancaman bahaya primer dapat berupa lontaran material pijar, batu/kerikil, pasir maupun hujan abu lebat di sekitar kawah. Hujan abu dengan intensitas lebih tipisdapat terpapar lebih luas bergantung pada arah dan kecepatan angin.
  2. Potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan dapat terjadi terutama pada musim hujan selama material erupsi-erupsi sebelumnya masih terpapar di area lereng dekat puncak. Area yang berpotensi terlanda aliran lahar hujan adalah aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung terutama ke arah Utara, Timurlaut, Tenggara, Selatan dan Baratdaya.
C. Kesimpulan
  1. Data pemantauan multi-parameter mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung saat ini cenderung menurun namun belum reda sepenuhnya dan masih berpotensi untuk terjadi erupsi dengan skala eksplosivitas rendah. Oleh karena itu, seluruh pihak diharap agar tetap menjaga kesiapsiagaan mengingat aktivitas gunungapi sangat dinamis dan dapat berubah setiap saat.
  2. Berdasarkan hasil analisis data pemantauan multi-parameter serta mempertimbangkan potensi ancaman bahaya Gunung Agung terkini, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status Gunung Agung diturunkan dari Level IV (AWAS) ke Level III (SIAGA).
D. Rekomendasi
  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  2. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  3. Mengingat masih adanya potensi ancaman bahaya abu vulkanik dan mengingat bahwa abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia, maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung agar senantiasa menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi ancaman bahaya abu vulkanik.
  4. Pemerintah Daerah, BNPB dan instansi/lembaga terkait lainnya agar terus menjaga komunikasi di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan G. Agung sehingga proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terus terselenggara dengan baik.
  5. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar tetap mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  6. Seluruh pihak agar tetap menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  7. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  8. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta instansi/lembaga terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  9. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan dengan melaporkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapor Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
Sumber: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM