Tanggapan Kejadian
52 km baratdaya Kabupaten Pandeglang

Tanggapan dibuat oleh Arianne Pingkan Lewu, S.T., 14 Januari 2022 pukul 16:05:41 WIB

6.7 SR Tidak berpotensi Tsunami

VI-VII MMI ; Jakarta III-IV MMI ; di Bandung II-III MMI

Gempa bumi terjadi pada hari Jum'at, tanggal 14 Januari 2022, pukul 16:05:41 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 105,26° BT dan 7,01° LS, berjarak sekitar 52 km barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dengan magnitudo M6,7) pada kedalaman 10 km. Menurut informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 105,251° BT dan 6,929° LS dengan magnitudo M6,6 pada kedalaman 37,2 km. Berdasarkan data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 105,34° BT dan 6,84° LS, dengan magnitudo M6,5 (Mw) pada kedalaman 44 km.


Lokasi pusat gempa bumi berada di laut pada perairan selatan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Daerah selatan Kabupaten Pandeglang terdekat dengan lokasi pusat gempa bumi. Morfologi daerah terlanda guncangan gempa bumi merupakan dataran dan perbukitan bergelombang hingga terjal. Daerah tersebut tersusun oleh batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen dan endapan Kuarter berupa endapan aluvial pantai, aluvial sungai dan batuan rombakan gunungapi muda. Sebagian batuan berumur Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan pada umumnya bersifat urai, lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi. Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber (focal mechanism) dari BMKG, USGS Amerika Serikat dan GFZ Jerman, maka kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh aktivitas zona penunjaman Lempeng dengan mekanisme sesar naik yang berarah relatif barat barat laut – timur tenggara. Zona penunjaman tersebut terbentuk akibat tumbukan antara lempeng benua Eurasia dan lempeng Samudera Indo-Australia sekitar zaman Kapur (sekitar 66 juta tahun yang lalu) dan masih aktif hingga kini. Kejadian gempa bumi ini diperkirakan bersumber dari zona interface yang terjadi pada bidang gesek bagian atas antara kedua lempeng tersebut.


Menurut informasi yang dihimpun dari Dinas ESDM Provinsi Banten dan media online (www.sindonews.com, www.detik.com, www.beritasatu.com, www.merdeka.com) kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan kerusakan bangunan di Kecamatan Sumur, Munjul, Cimanggu, Cibaliung, Kabupaten Pandeglang. Menurut data BMKG guncangan gempa bumi terasa cukup kuat di sekitar lokasi pusat gempa bumi dengan intensitas diperkirakan mencapai VI-VII MMI (Modified Mercally Intensity). Menurut informasi masyarakat guncangan gempa bumi dirasakan di Jakarta dan sekitarnya dengan intensitas III-IV MMI, di Bandung dengan intensitas II-III MMI. Menurut data Badan Geologi, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi sebagian besar terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi tinggi. Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami meskipun lokasi pusat gempa bumi terletak di laut, namun diperkirakan tidak mengakibatkan deformasi bawah laut yang dapat memicu terjadinya tsunami. Menurut data Badan Geologi wilayah pantai selatan Pandeglang dan Selat Sunda tergolong rawan tsunami dengan potensi tinggi tsunami di garis pantai untuk pantai selatan Pandeglang lebih dari 3 m dan di Selat Sunda berkisar 2 m dan bagian selatan lebih dari 3 m.


1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami
2. Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi terlebih dahulu ke tempat aman sesuai dengan arahan dari BPBD dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang
3. Bangunan di Kabupaten Pandeglang harus dibangun dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan. Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi
4. Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya tsunami, namun diperkirakan berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) yaitu retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi
5. Badan Geologi akan mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke lokasi bencana

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM