Tanggapan Kejadian
45 km barat laut Kota Tiakur (ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku)

Tanggapan dibuat oleh Merry Christina Natalia, S.T., 30 Desember 2021 pukul 11:12:44 WIB

7.4 SR Tidak berpotensi Tsunami

Tiakur V – VI MMI (Modified Mercally Intensity), di Tefa IV-V MMI, di Saumlaki IV MMI, di Waingapu dan Darwin III-IV MMI

Gempa bumi terjadi pada hari Kamis tanggal 30 Desember 2021, pukul 01:25:52 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak di laut Banda pada koordinat 127,66 BT dan 7,76 LS, berjarak sekitar 45 km barat laut Kota Tiakur (ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku), dengan magnitudo (M 7,4) pada kedalaman 210 km. Menurut informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 7,59 LS dan 127,58 BT dengan magnitudo (M 7,3) pada kedalaman 167 km. Berdasarkan data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 127,58 BT dan 7,63 LS, dengan magnitudo (M 7,2) pada kedalaman 167 km.


Pusat gempa bumi berada di Laut Banda, Kabupaten Maluku Barat Daya. Wilayah sekitar pusat gempa bumi pada umumnya berupa pulau – pulau yang terdiri dari morfologi dataran dan perbukitan bergelombang hingga terjal yang tersusun oleh batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen, dan endapan Kuarter berupa endapan aluvial sungai dan pantai. Sebagian batuan berumur Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan tersebut pada umumnya bersifat urai, lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.


Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber (focal mechanism) dari BMKG, USGS Amerika Serikat dan GFZ Jerman, maka kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh aktivitas zona penunjaman di Laut Banda dengan mekanisme sesar naik yang berarah relatif barat – timur. Sebelumnya daerah Kabupaten Maluku Barat Daya telah mengalami dua kali kejadian gempa bumi merusak yaitu pada tanggal 11 Desember 2021 dengan magnitudo (M 5,6) pada kedalaman 10 km dan tanggal 16 Desember 2021 dengan magnitudo (M 5,6) pada kedalaman 26 km. Kedua kejadian gempa bumi merusak tersebut diakibatkan oleh pergerakan sesar aktif.


Hingga laporan ini dibuat belum ada informasi mengenai korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini. Guncangan gempa bumi terasa kuat di sekitar lokasi pusat gempa bumi. Menurut informasi BMKG guncangan gempa bumi di Tiakur diperkirakan pada skala intensitas V – VI MMI (Modified Mercally Intensity), di Tefa IV-V MMI, di Saumlaki IV MMI, di Waingapu dan Darwin III-IV MMI. Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami meskipun lokasi pusat gempa bumi terletak di laut, karena tidak mengakibatkan terjadinya deformasi bawah laut yang dapat memicu terjadinya tsunami. Menurut data Badan Geologi, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah dan tinggi. Pulau – pulau di wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku tergolong rawan tsunami. Menurut data Badan Geologi tinggi tsunami di garis pantai pada pulau – pulau di wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya berkisar antara 1,56 m hingga 6,4 m.


(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi ke tempat aman sesuai dengan arahan dari BPBD dan Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya.
(3) Bangunan di Kabupaten Maluku Barat Daya harus dibangun dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan. Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi.
(4) Pantai di pulau – pulan Kabupaten Maluku Barat Daya tergolong rawan tsunami, oleh karena itu harus dilakukan upaya mitigasi tsunami.
(5) Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi.

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM