Tanggapan Kejadian
20,4 km timur laut Maluku Barat Daya

Tanggapan dibuat oleh Arianne Pingkan Lewu, S.T., 19 April 2021 pukul 14:07:37 WIB

5.7 SR Tidak berpotensi Tsunami

III-IV Maluku Barat daya

Gempa bumi terjadi pada hari Senin, tanggal 19 April 2021, pukul 14:07:37 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 127,89° BT dan 8,00° LS, dengan magnitudo (M5,7) pada kedalaman 23 km, berjarak sekitar 20,4 km timur laut kota Tiakur (ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya). Menurut informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 127,722° BT dan 7,799° LS, dengan magnitudo (M5,1) pada kedalaman 84,7 km. Berdasarkan data GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 127,71° BT dan 7,74° LS, dengan magnitudo (M5,3) pada kedalaman 88 km.


Wilayah-wilayah yang terletak dekat dengan sumber gempa bumi adalah pulau Moa dan pulau-pulau lainnya di Kabupaten Maluku Barat Daya yang disusun oleh batuan berumur Pra Tersier (terdiri – dari batuan metamorf dan meta sedimen), Tersier (terdiri – dari batuan sedimen dan batugamping) dan Endapan Kuarter (terdiri – dari endapan pantai dan aluvial). Sebagian batuan berumur Pra Tersier dan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan tersebut bersifat urai, lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan guncangan gempa bumi.


Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan data mekanisme sumber (focal mechanism) dari GFZ Jerman, maka kejadian gempa bumi tersebut berasosiasi dengan aktivitas penunjaman lempeng di Laut Banda dengan mekanisme sesar naik berarah relatif barat – timur (kedudukan N 253° E, dip 33°, rake 8°). Zona penunjaman ini membentang mulai dari selatan pulau Timor, tenggara Pulau Yamdena, timur Kepulauan Kai dan membelok hingga utara Pulau Seram dengan mekanisme gempa bumi pada umumnya sesar naik. Menurut catatan dari Badan Geologi sumber gempa bumi penunjaman di Laut Banda pernah memicu terjadinya tsunami pada tahun 1629, 1674, 1852, dan 1938. Disamping dari aktivitas penunjaman di Laut Banda, sumber pembangkit tsunami lainnya diperkirakan dari longsoran cekungan Weber yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat.


Hingga tanggapan ini dibuat belum ada informasi korban jiwa dan kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh kejadian gempa bumi ini. Menurut informasi BMKG guncangan gempa bumi terasa di Kabupaten Maluku Barat Daya dan diperkirakan pada skala intensitas III-IV MMI (Modified Mercally Intensity). Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami meskipun lokasi pusat gempa bumi terletak di laut, karena energinya tidak cukup kuat untuk mengakibatkan terjadinya deformasi dasar laut yang dapat memicu tsunami.


(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan kekuatannya lebih kecil.

Follow Kami

Pilih salah satu akun sosial media kami untuk mendapatkan update terkini tentang bahaya geologi di Indonesia.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi

Kementerian ESDM